
JAKARTA, BENGKULU TERKINI – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan bahwa api penyebab kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di hutan dan lahan terus membesar dan sampai saat ini telah menyebar ke enam provinsi di Indonesia pada Senin (24/8/2026). Salah satu daerah yang mengalami peningkatan titik api secara signifikan adalah Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah, di mana total luas lahan yang terbakar dilaporkan telah mencapai angka 396 hektare.
Penyebaran titik panas di berbagai wilayah di Nusantara terjadi karena musim kemarau yang sangat panjang, sehingga menyebabkan hujan sangat sedikit dalam beberapa minggu. Kondisi ini membuat tumbuhan di daerah hutan lindung, lahan gambut, hingga sabana mudah terbakar dan bisa menimbulkan kabut asap yang berpotensi merugikan kesehatan masyarakat.
Kondisi Kritis Karhutla 396 Hektare di Nabire
Sorotan utama penanganan bencana saat ini mengarah ke Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Vegetasi berupa semak belukar, ilalang kering, dan sabana dataran rendah di wilayah tersebut terbakar dengan sangat cepat akibat embusan angin kencang.
Hingga awal pekan ini, pendataan spasial Satgas Karhutla mendapati luasan lahan yang terdampak telah melampaui 396 hektare dan masih berpotensi bertambah jika tidak ada intervensi cuaca.
Tim pemadam kebakaran darat yang terdiri dari BPBD setempat, TNI, dan Polri menghadapi kendala medan yang terjal dan terisolasi.
Minimnya sumber air baku di sekitar lokasi kebakaran memaksa petugas melakukan rekayasa pembuatan embung darurat dan memobilisasi tandon air menggunakan kendaraan taktis pengangkut.
Kepungan Titik Api di 5 Provinsi Rawan Lainnya
Selain Papua Tengah, eskalasi karhutla berskala besar juga tengah mengepung lima provinsi langganan kebakaran lainnya, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan Jambi. Di wilayah Sumatra dan Kalimantan, api utamanya melahap lapisan tanah gambut yang memicu munculnya asap putih pekat dan tebal.
Kebakaran gambut bawah permukaan (subsurface fire) di kelima provinsi ini mulai berdampak pada penurunan jarak pandang (visibility) di beberapa ruas jalan lintas provinsi dan wilayah perairan sungai.
BNPB terus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi setempat untuk memastikan tidak ada keterlambatan dalam penetapan status siaga darurat yang menjadi syarat pencairan Dana Siap Pakai (DSP) operasional pemadaman.
Optimalisasi Pengerahan Armada Water Bombing
Guna menekan laju perambatan api di keenam wilayah tersebut, pemerintah pusat telah memobilisasi armada udara secara maksimal. Puluhan helikopter pengebom air (water bombing) disebar dan dioperasikan ke titik-titik koordinat api yang sudah tidak bisa dijangkau oleh selang pompa petugas darat.
Di saat yang bersamaan, Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) terus dilakukan oleh pesawat dari TNI AU dengan menyemai tonase garam higroskopis di awan potensial.
Pemerintah berpacu dengan waktu untuk menciptakan hujan buatan demi membasahi kembali kubah-kubah gambut dan hamparan sabana sebelum krisis kabut asap melumpuhkan jalur penerbangan komersial dan perekonomian warga.
Imbauan Kesehatan dan Peringatan Darurat Pembukaan Lahan
Menyikapi kualitas udara yang kian memburuk di beberapa kabupaten, Dinas Kesehatan di 6 wilayah terdampak telah menyiagakan puskesmas selama 24 jam untuk melayani keluhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Warga kelompok rentan, terutama anak-anak dan lansia, diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan wajib menggunakan masker saat bepergian.
Selain itu, Satgas Gakkum (Penegakan Hukum) memperingatkan secara keras kepada seluruh korporasi perkebunan maupun individu agar tidak memanfaatkan musim kemarau untuk melakukan pembukaan lahan (land clearing) dengan cara membakar.
Aparat keamanan dipastikan akan mengambil tindakan hukum tegas berupa penangkapan dan penyegelan lahan bagi siapa pun yang terbukti sengaja menyulut api.
Meluasnya karhutla di 6 wilayah Indonesia, dengan rekor luasan lahan terbakar menembus 396 hektare di Nabire, menjadi peringatan darurat bagi sistem mitigasi bencana nasional di puncak kemarau 2026. Melalui pengerahan masif armada udara dan darat, ketegasan penegakan hukum, serta kesiapsiagaan medis, seluruh elemen pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat bersinergi kuat memadamkan kobaran api demi memulihkan udara bersih nusantara.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah penulis dan kontributor di Bengkulu Terkini yang berfokus menyajikan konten berita yang informatif, menarik, dan terpercaya bagi pembaca digital di seluruh Indonesia.




