Kejahatan Siber Meningkat, ABI Dorong Literasi Keamanan Digital Hadapi Ancaman AI

Kejahatan Siber Meningkat, ABI Dorong Literasi Keamanan Digital Hadapi Ancaman AI
Ilustrasi. Foto: Kejahatan Siber Meningkat, ABI Dorong Literasi Keamanan Digital Hadapi Ancaman AI

Meningkatnya kasus kejahatan siber mendorong kolaborasi antara pemerintah, regulator, dan pelaku industri untuk memperkuat literasi keamanan digital di Indonesia. Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) menilai edukasi masyarakat menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko penipuan digital yang kini semakin canggih, termasuk yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), phishing, hingga rekayasa sosial atau social engineering.

Komitmen tersebut ditegaskan ABI dalam Festival Aman Digital 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Forum tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari instansi pemerintah, regulator sektor keuangan, pelaku industri teknologi, komunitas keamanan siber, hingga akademisi untuk memperkuat ketahanan digital nasional melalui peningkatan literasi masyarakat.

Direktur Operasi Keamanan dan Pengendalian Informasi BSSN, Satryo Suryantoro, menekankan bahwa literasi keamanan siber tidak dapat diwujudkan hanya oleh satu lembaga. Menurutnya, keberhasilan program tersebut memerlukan keterlibatan aktif kementerian, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dunia pendidikan, pelaku usaha, media, serta masyarakat luas. BSSN juga mendorong pelaksanaan gerakan nasional literasi keamanan siber sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem digital yang lebih aman.

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan bahwa kelompok usia produktif masih menjadi sasaran utama pelaku kejahatan digital karena memiliki intensitas transaksi daring yang tinggi. Modus penipuan kini berkembang semakin kompleks dengan memanfaatkan AI dan teknologi deepfake yang mampu meniru wajah, suara, hingga perilaku seseorang sehingga semakin sulit dikenali masyarakat. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan urgensi edukasi mengenai keamanan digital.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, ABI terus menjalankan berbagai program edukasi, salah satunya melalui Bulan Literasi Kripto yang telah berlangsung sejak 2023. Program yang diinisiasi bersama OJK itu bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai aset kripto, teknologi blockchain, serta berbagai risiko penipuan yang berkembang di ruang digital. ABI berharap meningkatnya literasi dapat membantu masyarakat lebih kritis sebelum melakukan transaksi atau membagikan data pribadi secara daring.

Ke depan, ABI menyatakan akan memperluas kolaborasi dengan regulator, pemerintah, dan pelaku industri guna memperkuat perlindungan konsumen di era transformasi digital. Melalui sinergi tersebut, masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan teknologi digital secara aman, bijak, dan bertanggung jawab, sekaligus memiliki kemampuan mengenali berbagai modus kejahatan siber yang terus berkembang seiring kemajuan teknologi. Di tengah pesatnya adopsi layanan digital dan AI, peningkatan literasi keamanan siber dinilai menjadi fondasi penting untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap ekosistem digital nasional sekaligus memperkuat ketahanan Indonesia menghadapi ancaman siber di masa depan.

Website |  + posts

Jessie Evelyn Kartadjaja adalah penulis dan kontributor di Bengkulu Terkini yang berfokus menyajikan konten berita yang informatif, menarik, dan terpercaya bagi pembaca digital di seluruh Indonesia.