
Harga cabai rawit merah kembali mencatat kenaikan dan menjadi komoditas pangan dengan harga tertinggi di tingkat konsumen pada akhir Mei 2026. Berdasarkan pemantauan nasional, harga rata-rata cabai rawit merah mencapai Rp92.405 per kilogram.
Kenaikan harga tersebut memperpanjang tren mahalnya komoditas hortikultura yang selama beberapa pekan terakhir mengalami fluktuasi di berbagai daerah. Cabai rawit merah menjadi salah satu bahan pangan yang paling sensitif terhadap perubahan cuaca, distribusi, dan pasokan dari sentra produksi.
Lonjakan harga tidak hanya dirasakan pedagang pasar tradisional, tetapi juga mulai memengaruhi pola konsumsi rumah tangga. Sejumlah konsumen mengaku mengurangi pembelian karena harga cabai dinilai terlalu tinggi dibanding kondisi normal.
Pengamat pangan menilai faktor cuaca masih menjadi penyebab utama terbatasnya produksi di beberapa wilayah. Curah hujan yang tidak menentu berdampak terhadap hasil panen dan mengurangi pasokan yang masuk ke pasar.
Selain cabai, sejumlah komoditas pangan lain juga masih menunjukkan pergerakan harga yang beragam. Beberapa bahan kebutuhan pokok mengalami kenaikan tipis, sementara komoditas tertentu justru mengalami penurunan seiring membaiknya distribusi pasokan.
Pemerintah terus melakukan pemantauan melalui berbagai instrumen pengendalian harga untuk menjaga stabilitas pangan nasional. Langkah yang dilakukan mencakup penguatan distribusi, koordinasi dengan daerah, serta pengawasan stok komoditas strategis.
Meski demikian, pelaku usaha menilai harga cabai masih berpotensi bergerak fluktuatif dalam jangka pendek apabila kondisi produksi belum kembali normal. Stabilitas pasokan dari daerah sentra menjadi faktor utama yang akan menentukan arah harga dalam beberapa pekan mendatang.
Tingginya harga cabai rawit merah saat ini menjadi perhatian karena berpengaruh langsung terhadap pengeluaran rumah tangga dan inflasi bahan makanan.



