
BI Pastikan Stabilitas Rupiah Tetap Dijaga Meski Dekati Level Rp18.000 per Dolar AS

Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah pelemahan mata uang domestik yang kembali bergerak mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Bank sentral memastikan berbagai instrumen kebijakan moneter terus dioptimalkan guna meredam tekanan yang berasal dari dinamika pasar keuangan global maupun faktor domestik.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyatakan pelemahan rupiah saat ini masih dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian global. Menurutnya, pergerakan mata uang nasional tidak terlepas dari penguatan dolar AS serta perubahan sentimen investor terhadap aset negara berkembang. Meski demikian, BI menilai kondisi pasar keuangan domestik masih terkendali dan terus dipantau secara intensif.
Untuk menjaga stabilitas kurs, BI tetap mengandalkan bauran kebijakan yang mencakup intervensi di pasar valuta asing, transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder apabila diperlukan. Selain itu, bank sentral juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait guna menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Pelemahan rupiah hingga mendekati level Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian pelaku pasar karena merupakan salah satu batas psikologis yang dinilai berpotensi memengaruhi sentimen investasi. Kendati demikian, BI menegaskan nilai tukar rupiah tetap bergerak sesuai mekanisme pasar dengan mempertimbangkan kondisi fundamental ekonomi nasional yang masih dinilai solid. Berbagai indikator, termasuk stabilitas sistem keuangan dan likuiditas pasar, terus dipantau untuk memastikan volatilitas tetap berada dalam kisaran yang wajar.
Bank Indonesia juga memastikan akan terus mencermati perkembangan ekonomi global, termasuk arah kebijakan moneter negara maju, yang berpotensi memengaruhi arus modal dan pergerakan nilai tukar. Langkah stabilisasi akan dilakukan secara terukur agar keseimbangan pasar tetap terjaga tanpa mengganggu aktivitas ekonomi domestik. BI optimistis koordinasi kebijakan fiskal dan moneter mampu menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah tekanan eksternal yang masih berlangsung.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah penulis dan kontributor di Bengkulu Terkini yang berfokus menyajikan konten berita yang informatif, menarik, dan terpercaya bagi pembaca digital di seluruh Indonesia.
