
IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.735, Investor Cermati Data Ekonomi Domestik

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Kamis (2/7/2026) di zona hijau setelah berhasil melanjutkan penguatan pada awal sesi. Optimisme pelaku pasar mendorong indeks bergerak positif meski sentimen ekonomi domestik dan global masih membayangi arah perdagangan sepanjang hari.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG sempat menguat sekitar 0,26% ke level 5.709,84 sebelum memperluas kenaikan hingga berada di kisaran 5.735 pada sesi awal. Penguatan tersebut didukung aksi beli di sejumlah saham berkapitalisasi besar yang menjadi penopang utama pergerakan indeks. Meskipun demikian, pelaku pasar tetap berhati-hati karena sejumlah data ekonomi terbaru diperkirakan masih memengaruhi sentimen investasi.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian investor adalah defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 sebesar US$1,61 miliar. Defisit tersebut mengakhiri tren surplus perdagangan yang telah berlangsung selama enam tahun berturut-turut. Selain itu, perkembangan inflasi domestik dan arah kebijakan moneter Bank Indonesia juga terus dipantau karena berpotensi memengaruhi pergerakan pasar keuangan dalam jangka pendek.
Di sisi eksternal, pelaku pasar masih mencermati prospek suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), pergerakan dolar AS, serta kondisi ekonomi global. Ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter di negara maju membuat sebagian investor memilih tetap selektif dalam menempatkan dana pada aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.
Sejumlah sektor tercatat menjadi penopang kenaikan IHSG pada awal perdagangan, terutama saham perbankan, energi, dan komoditas. Aktivitas beli dari investor domestik turut membantu menjaga momentum penguatan indeks, meski arus dana asing masih bergerak fluktuatif dalam beberapa sesi terakhir.
Analis menilai pergerakan IHSG sepanjang perdagangan masih akan dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global. Data ekonomi yang dirilis dalam waktu dekat, termasuk perkembangan inflasi, nilai tukar rupiah, serta kondisi perdagangan internasional, diperkirakan menjadi faktor utama yang menentukan arah indeks.
Meski berhasil dibuka di zona positif, volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi. Investor disarankan mencermati fundamental emiten dan perkembangan sentimen makroekonomi sebelum mengambil keputusan investasi. Apabila tekanan eksternal mulai mereda dan arus dana kembali masuk ke pasar domestik, peluang penguatan IHSG hingga penutupan perdagangan masih terbuka. Sebaliknya, jika sentimen negatif kembali mendominasi, pergerakan indeks berpotensi mengalami koreksi di tengah tingginya aktivitas transaksi.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah penulis dan kontributor di Bengkulu Terkini yang berfokus menyajikan konten berita yang informatif, menarik, dan terpercaya bagi pembaca digital di seluruh Indonesia.