
BPS Ingatkan Harga Bawang Putih, Rupiah Lemah dan Biaya Logistik Jadi Pemicu

Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai perkembangan harga bawang putih di Indonesia. Komoditas pangan yang sebagian besar kebutuhannya dipenuhi dari impor tersebut rentan mengalami kenaikan harga akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan tingginya biaya logistik internasional.
BPS menilai ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri membuat harga bawang putih domestik sangat dipengaruhi faktor eksternal. Ketika rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, biaya yang harus dikeluarkan importir untuk mendatangkan bawang putih menjadi lebih mahal. Tekanan tersebut kemudian dapat diteruskan ke harga di tingkat konsumen.
Selain nilai tukar, biaya transportasi dan logistik internasional turut menjadi perhatian. Ketegangan geopolitik yang mendorong kenaikan harga energi dapat meningkatkan ongkos pengiriman barang, termasuk komoditas pangan impor. Kombinasi pelemahan rupiah dan mahalnya biaya distribusi berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap harga bawang putih di pasar domestik.
Pergerakan harga bawang putih perlu dicermati karena komoditas ini menjadi salah satu kebutuhan penting rumah tangga. Pada Juni 2026, bawang putih tercatat mengalami inflasi 6,88 persen. Kondisi tersebut menunjukkan perubahan faktor eksternal dapat dengan cepat memengaruhi harga komoditas impor di dalam negeri.
Situasi ini berbeda dibandingkan Mei 2026. Pada periode tersebut, bawang putih masih memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen terhadap inflasi bulanan nasional. Perubahan dalam waktu relatif singkat memperlihatkan volatilitas harga bawang putih yang perlu diantisipasi pemerintah.
BPS menekankan pentingnya mencermati sumber tekanan harga agar langkah pengendalian dapat dilakukan secara tepat. Stabilitas pasokan, kelancaran distribusi, perkembangan kurs rupiah, serta biaya pengiriman internasional menjadi sejumlah faktor yang perlu dipantau untuk mencegah lonjakan harga lebih lanjut.
Peringatan tersebut muncul di tengah tekanan inflasi nasional yang meningkat. BPS mencatat inflasi Indonesia pada Juni 2026 mencapai 0,44 persen secara bulanan dan 3,34 persen secara tahunan. Pemerintah daerah juga diminta terus memperkuat pengendalian harga pangan, terutama terhadap komoditas yang menunjukkan kenaikan signifikan.
Dengan tingginya ketergantungan pada impor, stabilitas harga bawang putih akan sangat bergantung pada kemampuan menjaga pasokan sekaligus meredam dampak gejolak nilai tukar dan biaya logistik global. Pemerintah perlu mewaspadai tekanan tersebut agar kenaikan harga tidak semakin membebani daya beli masyarakat.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah penulis dan kontributor di Bengkulu Terkini yang berfokus menyajikan konten berita yang informatif, menarik, dan terpercaya bagi pembaca digital di seluruh Indonesia.
